IDUL ADHA DAN DIMENSI SOSIAL YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA
11/05/2026 | Penulis: Iqbal Zulkarnain
Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang keikhlasan
Kesempurnaan agama Islam sebagaimana diungkapkan oleh para ulama tarikh tasyri’ Al Islamiyah dapat dilihat dari berbagai sisi; ajarannya yang komprehensif (syumul); mengandung azas fleksibelitas hukum; dan berlaku sepanjang masa (shalihatut li kulli zaman wa makan).
Selain itu, ajaran Islam juga memiliki keistimewaan yang lain dari semua hukum yang ada di muka bumi ini. Keistimewaan itu terletak pada dualisme makna dari setiap ajarannya. Dualisme yang dimaksud disini adalah, bahwa setiap ajaran Islam selalu mengedepankan dua aspek didalamnya; pertama aspek ‘ubudiyah atau penghambaan diri semata-mata kepada Allah SWT. Kedua, aspek sosial kemasyarakatan.
Hal ini, misalnya, dapat dengan jelas kita temukan pada semua ajaran Islam yang terkandung dalam rukun Islam.
Orang yang telah menyatakan dirinya Islam dan mengucapkan syahadatain, maka ia wajib menyelamatkan dirinya dan saudara seimannya dari mulut, tangan dan segala bentuk kejahatan.
Rasulullah SAW bersabda:
Dari Abdullah bin Amru RA dari nabi SAW bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya. Dan orang yang hijrah itu adalah orang yang hijrah dari apa yang dilarang Allah.” (HR Bukhari).
Marilah kita semak sejenak pengorbanan yang telah diberikan oleh para pendahulu kita, dari kalangan anbiya’ dan salafus shaleh. Nabi Yahya a.s. syahid di tiang gantungan, Nabi Zakaria a.s. digergaji tubuhnya. Imam Malik dipenjara, diikat dan dicambuk oleh penguasa zhalim sampai sendi-sendinya nyaris putus.
Bahkan beliau dipaksa berjalan kaki di padang pasir yang terik selama dua bulan dari Yaman sampai Baghdad. Imam Nawawi diusir dari tanah airnya. Imam Abu Hanifah dipaksa minum racun setelah sebelumnya dipenjara dan dirantai lehernya dengan besi. Di abad dua puluh ini, Imam Hasan al Banna syahid ditembak di tengah jalan raya, Sayyid Qutub syahid di tiang gantungan, Abdullah Azzam syahid di medan jihad Afghanistan, dan lain-lain yang kesemuanya lantaran amat sangat cintanya kepada Allah SWT. Sehingga mereka sanggup mengorbankan apa saja demi yang dicintainya.
Demikianlah pengorbanan yang telah dipentaskan oleh para pendahulu kita. Maka menjadi tugas kita untuk meneruskan mata rantai perjuangan/pengorbanan ini. Sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi Ibrahim, Ismail atau Hajar untuk generasi kini dan yang akan datang. Sedia berkorban demi tercapainya cinta dan kasih sayang Allah. Ruhul tadhiah (semangat/jiwa berkorban) harus selalu kita miliki dan kita tumbuhkan agar ‘izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) segera dapat terwujud.
Perintah shalat lima waktu yang nyata-nyata mengandung makna ibadah mahdhah juga tidak terlepas dari dimensi sosial kemasyarakatan. Seseorang yang senantiasa shalat, namun shalatnya tidak mencegahnya dari pekerjaan keji dan mungkar, maka pada hakikatnya shalat tersebut masih perlu dipertanyakan.
Demikian juga orang yang berpuasa, namun puasanya tidak menjadi “benteng” baginya terhadap perbuatan maksiat atau meningkatkan ketakwaan, artinya puasa orang tersebut belum mencapai target yang diperintah-kan Allah.
Sedangkan perintah zakat adalah salah satu instrumen keseimbangan sosial yang ada dalam Islam. Islam memandang harta adalah titipan dan amanah Allah yang harus dicari dengan cara yang halal, dibelanjakan dalam koridor yang benar dan wajib didistribusikan kepada pihak-pihak lain yang telah ditentukan dengan ketentuan tertentu pula.
Aspek Sosial Idul Adha
Tinta sejarah yang terukir dalam kisah Ibrahim itu bukanlah sekadar cerita pengantar tidur yang tanpa makna. Ia merupakan suatu peringatan dan pelajaran (ibrah) bagi mereka yang memiliki mata hati (ulul abshar). Peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya mengisyaratkan nilai yang teramat agung yakni cinta sejati kepada Allah. Cinta yang melahirkan ketundukan dan kepatuhan yang dibuktikan dengan pengorbanan yang tulus ikhlas.
Pengorbanan, merupakan realisasi dari cinta kepada Sang Pencipta. Bagi kita orang-orang yang mengaku mukmin, sejarah kecintaan, pengabdian dan pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya merupakan teladan bagaimana seharusnya seorang hamba menyambut panggilan dan tugas-tugas dari Allah.
Semangat kesadaran untuk berkorban yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS. ini harus selalu kita tumbuh suburkan, sehingga kelak akan meningkatkan derajat ketakwaan kita di hadapan Allah SWT. Kita tidak boleh berhenti berkorban sebelum ajal datang. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula semangat berkorban yang dilandasi cinta kepada Allah, harus selalu menggelora di dada kita.
Penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha bukanlah tradisi biasa yang tanpa makna, bukanlah seremonial yang hanya sebatas “memotong” leher hewan qurban, tapi lebih dari itu mengandung nilai-nilai yang kaya akan makna.
Berbagai makna yang terkandung dalam ritual penyembelihan hewan qurban adalah antara lain; manifestasi ketakwaan kepada Sang Pencipta dengan cara antara lain meneladani sifat penghambaan seseorang terhadap Allah SWT seperti kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, menghilangkan sifat hubbud dunya (cinta terhadap dunia) yang berlebihan, membuang sifat tamak/serakah terhadap harta yang berlebihan serta menanamkan jiwa sosial/berbagi dengan sesama.
Ibadah pada umumnya lebih banyak dipahami sebagai hal-hal ritual semata. Ketaqwaan seseorang atau umat hanya di ukur dari seberapa sering dia shalat, puasa, berangkat haji atau seberapa banyak dia mengeluarkan zakat. Betapa banyak di antara kita disibukkan dengan urusan ibadah-ibadah mahdlah ini tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, kelaparan dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara seiman.
Tidak sedikit orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah sampai menghitam sementara di sekitarnya banyak tubuh-tubuh saudara seimannya yang layu digrogoti penyakit dan kurang gizi. Atau lihatlah setiap Idul Adha dengan ribuan sapi atau kambing yang dipotong ternyata penyakit kemiskinan tak pernah bisa di selesaikan dengan tuntas karena Idul Adha hanya dimaknai sebagai ibadah ritual dan dibiarkan kering akan solidaritas sosial. Nampaknya kita harus jujur mengakui bahwa hingga kini episode kemiskinan tetap menjadi bagian dari cerita kehidupan umat Islam yang entah kapan berakhir.
Bila ditinjau lebih jauh, Idul Adha mempunyai dua dimensi. Pertama adalah dimensi ritual-transendental. Di mana ritual qurban ini sebagai wujud penghambaan manusia dan ekspresi syukur kepada Allah SWT. Dimensi kedua yaitu dimensi sosial. Pemaknaan akan dimensi sosial ini tergambar dari komponen pembagian hasil penyembelihan hewan qurban kepada fakir miskin. Di sini ditujukan untuk menimbulkan nuansa egaliter dalam masyarakat. Sayangnya pesan kedua ini tidak banyak dipikirkan oleh kebanyakan kaum muslim. Padahal, seperti halnya daging qurban, kebaikan adalah sesuatu yang dapat ditularkan.
Berita Lainnya
BAZNAS Kabupaten Paser Berkoordinasi dengan Kelurahan Long Ikis Membantu Nenek Dahlia
BAZNAS Kabupaten Paser Dukung Gebyar Ceria Anak Desa Tanjung Aru
Zakat Barang Tambang dalam Perspektif Islam
Bapak Zainal Abidin dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Salurkan Zakat melalui BAZNAS Kabupaten Paser
Bapak Zainuri Terima Bantuan Fakir dari BAZNAS Kabupaten Paser
BAZNAS Kabupaten Paser Salurkan Bantuan Fakir kepada Bapak Bakri yang Hidup Sebatang Kara di Tanah Periuk
Kajian Fiqih Zakat: Fi Sabilillah dalam Perspektif Syariat Zakat
BAZNAS Kabupaten Paser Bantu Pengobatan Syawal Penderita Prostat
ZAKAT SEBAGAI PENGURANG PENGHASILAN KENA PAJAK
BAZNAS Kabupaten Paser Salurkan Bantuan Pendidikan untuk Muhammad Rayhan
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Pengelolaan Zakat Tanpa Izin Dapat Sanksi Pidana
BAZNAS Kabupaten Paser Bantu Nenek Senami, Penjual Kacang di MTQ Tanah Grogot yang Kini Sakit
BAZNAS Kabupaten Paser Monitoring Bantuan Motor dan Gerobak, 19 Mustahik Laporkan Perkembangan Usaha
Dinas Pekerjaan Umum Salurkan Infak Bulan Mei 2026 melalui BAZNAS Kabupaten Paser sebagai Contoh Teladan

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Paser.
Lihat Daftar Rekening →